Kerajaan Kediri adalah kerajaan yang bercorak Budha yang merupakan pecahan dari kerajaan Airlangga dan terletak di kota Daha (Kediri) Jawa Timur. Kerajaan ini berdiri pada tahun 1042 Masehi.
Berdasarkan prasasti Mahasubya, kitab Negarakertagama dan kitab Calon arang disebutkan bahwa terjadinya peperangan saudara setelah raja utama yaitu Airlangga meninggal.
Kedua putranya tersebut yaitu raja Mapanji Garasakan dan Janggala masing-masing mendapatkan wilayah. Raja Mapanji Garasakanlah yang akhirnya mendirikan kerajaan Kediri. Kediri sendiri berasal dari bahasa Sanskerta Khadri yang berarti pohon mengkudu.
Raja yang pernah memerintah kerajaan Kediri:
Raja jayabaya
Raja Sarweswara
Raja Kameswara
Raja Kertajaya
Kebanyakan peninggalan dari kerajaan Kediri adalah berupa seni sastra. Berikut beberapa peninggalan kerajaan Kediri diantaranya:
Kakawin Bhratayuddha ditulis oleh Mpu Sedah
Kakawin Harinwangsa ditulis oleh Mpu Panuluh
Ghatotkachasraya ditulis oleh Mpu Panuluh
Kakawin Smaradahana ditulis oleh Mpu Dharmajaya
Sumansantaka ditulis oleh Mpu Monaguna
Kresnayana ditulis oleh Mpu Triguna
Arca Buddha Vajrasattva.
2.Kerajaan Majapahit
anton-nb.com
Kerajaan Majapahit adalah kerajaan terbesar di Indonesia yang berpusat di daerah jawa Timur. Kerajaan ini berdiri pada tahun 1293 Masehi dan runtuh pada tahun 1500 Masehi. Wilayahnya yang dikuasai sangat luar biasa luasnya karena wilayah Indonesia sekarang masih kalah dengan luas wilayah kerajaan Majapahit.
Beberapa wilayah yang pernah ditaklukkannya diantaranya terbentang di Jawa, Sumatra, Semenanjung Malaya, Kalimantan, hingga Indonesia timur. Kerajaan Majapahit sendiri menganut agama Hindu dan Budha .
Berikut beberapa raja yang pernah berkuasa selama berdirinya kerajaan Majapahit.
Raden Wijaya
Kalagamet
Sri Gitarja
Hayam Wuruk
Wikramawardhana
Suhita
KertaWijaya
Rajasawardhana
Purwawisesa
Bhre Pandansalas
Bhre Kertabumi
Girindrawardhana
Patih Udara.
Beberapa peninggalan dari kerajaan Majapahit diantaranya:
Candi Sukuh
Candi Cetho
Candi Pari
Candi Jabung
Gapura Wringin Lawang
Gapura Bajang Batu
Gapura Brahu
Candi Tikus
Candi Surawarna
Kolam Segaran
Situs Lantai Segi enam
Reco Lanang
Api Abadi Bekucuk
Prasasti Gunung Buta
3.Kerajaan Kutai
Kerajaan Kutai merupakan kerajaan Hindu tertua di Indonesia. Kerajaan Kutai diperkirakan muncul pada abad 5 M atau ± 400 M. bukti-bukti yang menujukkan bahwa kerajaan tersebut dibangun pada abad ke-4 adalah ditemukannya tujuh buah prasasti Yupa. Kerajaan ini terletak di Muara Kaman, Kalimantan Timur (dekat kota Tenggarong), tepatnya di hulu sungai Mahakam. Tidak banyak informasi mengenai Kerajaan Kutai. Hanya 7 buah prasasti Yupa tersebut itulah sumbernya. Penggunaan nama Kerajaan Kutai sendiri ditentukan oleh para ahli sejarah dengan mengambil nama dari tempat ditemukannya prasasti Yupa tersebut yaitu di daerah Kutai.
Ditemukannya tujuh buah batu tulis yang disebut Yupa yang mana ditulis dengan huruf Pallawa dan berbahasa Sanskerta, dan disusun dalam bentuk syair. Sedangkan huruf yang dipakai adalah huruf Palawa. Prasasti Yupa tersebut merupakan prasasti tertua yang menyatakan telah berdirinya suatu Kerajaan Hindu tertua yaitu Kerajaan Kutai. Yupa adalah tugu batu yang berfungsi sebagai tugu peringatan yang dibuat oleh para Brahmana atas kedermawanan Raja Mulawarman. Dituliskan bahwa Raja Mulawarman, Raja yang baik dan kuat yang merupakan anak dari Aswawarman dan merupakan cucu dari Raja Kudungga, telah memberikan 20.000 ekor sapi kepada para Brahmana.
Salah satu yupa dengan inskripsi, kini di Museum Nasional Republik Indonesia, Jakarta.
Dari prasati tersebut didapat bawah Kerajaan Kutai pertama kali didirikan oleh Kudungga kemudian dilanjutkan oleh anaknya Aswawarman dan mencapai puncak kejayaan pada masa Mulawarman (Anak Aswawarman). Menurut para ahli sejarah nama Kudungga merupakan nama asli pribumi yang belum tepengaruh oleh kebudayaan Hindu. Namun anaknya, Aswawarman diduga telah memeluk agama Hindu atas dasar kata ‘warman’ pada namnya yang merupakan kata yang berasal dari bahasa Sanskerta. Pendiri Kerajaan Kutai adalah Kudungga, sedangkan raja pertama yang resmi berkuasa di Kerajaan Kutai adalah Aswawarman karena sebagai pendiri dinasti Kerajaan Kutai dan diberi gelar “Wangsakarta”, yang artinya pembentuk keluarga.
Masa Kejayaan Kerajaan Kutai
1.Tidak banyak informasi mengenai Kerajaan Kutai yang temukan. Tetapi menurut prasasti Yupa, puncak kejayaan Kerajan Kutai berada pada masa kepemerintahan Raja Mulawarman. Pada masa pemerintahan Mulawarman, kekuasaan Kerajaan Kutai hampir meliputi seluruh wilayah Kalimantan Timur. Rakyat Kerajaan Kutai pun hidup sejahtera dan makmur.
Bidang Politik
Dalam prasasti-prasasti yang ditemukan di Kutai, terdapat salah satu prasasti yang didalamnya tetulis “Sang Maharaja Kundungga yang amat mulia mempunyai putra yang mashur, Sang Aswawarman namanya, yang seperti Sang Ansuman (Dewa Matahari) menumbuhkan keluarga yang sangat mulia. Sang Aswawarman mempunyai putra tiga, seperti api (yang suci) tiga. Yang terkemuka dari ketiga putra itu adalah Sang Mulawarman, raja yang berperadaban baik, kuat, dan kuasa. Sang Mulawarman telah mengadakan kenduri (selamatan) emas amat banyak. Buat peringatan kenduri itulah tugu batu ini didirikan oleh para Brahmana.”
Dari prasasti tersebut dapat diketahui nama-nama raja yang pernah memerintah di Kerajaan Kutai. Raja pertama bernama Kundungga yang merupakan nama Indonesia asli. Ia mempunyai seorang anak yang bernama Aswawarman yang dianggap sebagai pendiri dinasti atau pembentuk keluarga (Wamsakerta). Nama anak Kundungga di atas menunjukkan telah masuknya pengaruh Hindu dalam Kerajaan Kutai. Selanjutnya, dapat diketahui pula bahwa Aswawarman itu mempunyai 3 orang putra. Salah seorang di antara putranya itu sangat terkenal, bernama Mulawarman. Kedua nama terakhir menggunakan bahasa Sanskerta. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pada masa kerajaan Kutai, mereka telah mengenal sistem pemerintahan. Pemerintahan bukan lagi dipimpin oleh kepala suku, tetapi dipimpin oleh Raja. Dalam prasasti tersebut juga membuktikan bahwa raja-raja Kutai adalah orang Indonesia asli yang telah memeluk agama Hindu.
Raja-raja yang pernah memerintah di Kerajaan Kutai
Maharaja Kudungga
Maharaja Asmawarman
Maharaja Mulawarman
Maharaja Marawijaya Warman
Maharaja Gajayana Warman
Maharaja Tungga Warman
Maharaja Jayanaga Warman
Maharaja Nalasinga Warman
Maharaja Nala Parana Tungga
Maharaja Gadingga Warman Dewa
Maharaja Indra Warman Dewa
Maharaja Sangga Warman Dewa
Maharaja Candrawarman
Maharaja Sri Langka Dewa
Maharaja Guna Parana Dewa
Maharaja Wijaya Warman
Maharaja Sri Aji Dewa
Maharaja Mulia Putera
Maharaja Nala Pandita
Maharaja Indra Paruta Dewa
Maharaja Dharma Setia
Bidang Ekonomi
Secara geografis Kerajaan Kutai berada pada jalur perdagangan antara Cina dan India. Kerajaan Kutai menjadi tempat yang menarik untuk disinggahi para pedagang. Hal tersebut memperlihatkan bahwa kegiatan perdagangan telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kutai, disamping pertanian. Dan keterangan tertulis pada prasasti yang mengatakan bahwa Raja Mulawarman pernah memberikan hartanya berupa minyak dan 20.000 ekor sapi kepada para Brahmana. Diperkirakan bahwa pertanian dan peternakan merupakan mata pencaharian utama masyarakat Kutai. Melihat letak di sekitar Sungai Mahakam sebagai jalur transportasi laut, diperkirakan perdagangan masyarakat Kutai berjalan cukup ramai. Bagi pedagang luar yang ingin berjualan di Kutai, mereka harus memberikan “hadiah” kepada raja agar diizinkan berdagang.
Pemberian “hadiah” ini biasanya berupa barang dagangan yang cukup mahal harganya dan pemberian ini dianggap sebagai upeti atau pajak kepada pihak Kerajaan. Melalui hubungan dagang tersebut, baik melalui jalur transportasi sungai-laut maupan transportasi darat, berkembanglah hubungan agama dan kebudayaan dengan wilayah-wilayah sekitar. Banyak pendeta yang diundang datang ke Kutai. Banyak pula orang Kutai yang berkunjung ke daerah asal para pendeta tersebut.
Bidang Agama
Kehidupan kebudayaan masyarakat Kutai erat kaitannya dengan kepercayaan atau agama yang dianut. Yupa merupakan salah satu hasil budaya masyarakat Kutai, yaitu tugu batu yang merupakan warisan nenek moyang bangsa Indonesia dari zaman Megalitikum, yakni bentuk menhir. Salah satu yupa itu menyebutkan suatu tempat suci dengan nama Waprakeswara (tempat pemujaan Dewa Siwa). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa masyarakat Kutai adalah pemeluk agama Hindu Syiwa. Selain itu, masyarakat Kutai juga ada yang masih menjalankan adat istiadat dan kepercayaan asli mereka.
Bidang Sosial-Budaya
Karena Kerajaan Kutai telah mendapat pengaruh agama Hindu, maka kehidupan agamanya telah lebih maju. Salah satu contohnya adalah pelaksanaan upacara penghinduan atau pemberkatan seseorang yang memeluk agama Hindu yang disebut Vratyastoma. Upacara tersebut dilaksanakan sejak pemerintahan Aswawarman dan dipimpin oleh para pendeta atau brahmana dari India. Baru pada masa pemerintahan Mulawarman, upacara tersebut dipimpin oleh kaum brahmana dari Indonesia. Dari keterangan tersebut dapat disimpulkan bahwa kaum brahmana dari Indonesia ternyata memiliki tingkat intelektual yang tinggi karena mampu menguasai bahasa Sanskerta. Karena, bahasa ini bukanlah bahasa yang dipakai sehari-hari oleh rakyat India melainkan bahasa resmi kaum brahmana untuk masalah keagamaan.
Masuknya pengaruh budaya India ke Nusantara, menyebabkan budaya Indonesia mengalami perubahan. Perubahan yang terpenting adalah timbulnya suatu sistem pemerintahan dengan raja sebagai kepalanya. Sebelum budaya India masuk, pemerintahan hanya dipimpin oleh seorang kepala suku. Selain itu, percampuran lainnya adalah kehidupan nenek moyang bangsa Indonesia mendirikan tugu batu. Kebiasaan ini menunjukkan bahwa dalam menerima unsur-unsur budaya asing, bangsa Indonesia bersikap aktif. Artinya bangsa Indonesia berusaha mencari dan menyesuaikan unsur-unsur kebudayaan asing tersebut dengan kebudayaan sendiri.
Keruntuhan Kerajaan Kutai
Kerajaan Kutai berakhir saat Raja Kutai yang bernama Maharaja Dharma Setia tewas dalam peperangan di tangan Raja Kutai Kartanegara ke-13, Aji Pangeran Anum Panji Mendapa. Perlu diingat bahwa Kutai Martadipura berbeda dengan Kerajaan Kutai Kartanegara yang ibukotanya pertama kali berada di Kutai Lama (Tanjung Kute). Kutai Kartanegara inilah yang disebutkan dalam sastra Jawa Negarakertagama. Kutai Kartanegara selanjutnya menjadi kerajaan Islam yang disebut Kesultanan Kutai Kartanegara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar